Borobudur Writers and Cultural Festival

SH Mintardja Dan Mataram – CERITA SILAT, MITOS DAN SEJARAH; NEGERI TANPA HARAPAN DAN KEBANGGAAN

Otto Sukatno CR

…aku bermaksud untuk mengatakan
sesuatu tentang jiwa kepahlawanan,
kecintaan kepada rakyat dan tanah air,
kesetiaan kepada kebenaran,
serta hukuman pada setiap kemungkaran
lebih dari pada itu
aku ingin mengutarakan
betapa tanah air memiliki pula
bahan-bahan yang dapat disusun untuk
sebuah cerita seperti ini

(SH Mintardja, 1966)

1.    Pendahuluan

BERKAIT tema yang disodorkan panitia, kami memilih menyisir dari pinggir, mencoba mengkritisi  mengenai seputar nilai-nilai, mitos, sejarah, mentalitas dan berbagai agregasi, korelasi serta korespodensi cerita silat, yang pada akhirnya mempengaruhi, bahkan membentuk  watak dan mentalitas “sejarah nasional” bangsa ini. Bangsa yang –sejarahnya ubahnya cerita silat, yang nyinyir dan dipanjang-panjangkan oleh dendam, yang sesak oleh masifikasi dan mistifikasi yang tak alang kepalang—sejak dahulu selalu dirudung  krisis (perang)  dan konflik suksesi. Karena perang, demikianlah ungkap SH Mintardja dalam Nagasasra dan Sabuk Inten (NSSI) adalah sahabat paling karib manusia.

…peperangan itu sendiri serasa menjadi sahabat yang paling karib dari manusia. Setiapkali akan datang kembali, mengunjungi sahabatnya. Kalau tidak, maka sahabatnya itulah yang bertingkah mengundangnya. Ternyata dalam sejarah hidup manusia yang tertulis di lontar-lontar, kitab-kitab kidung dan lontar-lontar yang lain, selalu akan berulang kembali kata-kata; perang,perang, perang!

Begitulah sejarah dan atau hidup, kadang tak terduga dan aneh! Perkenalan kami dengan (karya-karya) Singgih Hadi Mintardja (1933- 1999), juga tak terduga. Secara pribadi, kami telah kenal nama-nama; “Mahesa Jenar, Pasingsingan, Jaka Soka, Rara Wilis, Ki Ageng Pandan Alas, Ki Ageng Suradipoyono,  Bugel Kaliki, Simo Lodra” dan lain-lain, ketika usiaku masih belia, jauh sebelum mengenal baca tulis.  Karena aku memiliki kakak sulung, selain ulung melukis dan mendongeng—meski hari tuanya tidak dibaktikan untuk dunia seni—hingga sampai bermalam-malam berikutnya—ubahnya kisah Seribu Satu Malam—ia mendedahkan kisah tokoh-tokoh dahsyat itu dengan fasihnya, meski hanya dengan imbalan “dilintingkan rokok tingwe”.
Belakangan aku baru mengetahui, dongeng itu ternyata  serial Nagasasra  dan Sabuk Inten (NSSI) salah satu karya lengendaris SH Mintardja, seorang —selain Herman Pratikto dengan Bende Mataram dan Asmaraman Sukowati (Ko Ping Ho) — perintis cerita silat Modern Indonesia, yang memiliki pandemen (pembaca) luar biasa, melebihi pembaca karya sastra modern Indonesia lainnya.

2.    SH Mintardja; Politik Perhatian dan Perayaan Teks

Karya sastra yang baik dan berhasil, hemat kami bukan bagaimana karya itu mampu menyajikan alur cerita dan sistem estetika yang muluk, dicanggih-canggihkan dan dirumit-rumitkan. Tetapi sejauh mana di dalamnya, mampu membangun, mengidentifikasi dan meruangkan sebanyak mungkin “riwayat massa”. Dan lewat karya-karyanya–Seperti Api di Bukit Menoreh (396 episode), Tanah Warisan (8 episode), Matahari Esok Pagi (15 episode), Meraba Matahari (9 episode), Suramnya Bayang-bayang (34 episode), Sayap-sayap Terkembang (67 episode), Istana yang Suram (14 episode), Nagasasra Sabukinten (16 episode), Bunga di Batu Karang (14 episode),Yang Terasing (13 episode), Mata Air di Bayangan Bukit (23 episode), Kembang Kecubung (6 episode), Jejak di Balik Bukit (40 episode), Tembang Tantangan (24 episode) dan Hijaunya Lembah Hijaunya Lereng Pegunungan (118 episode) —  SH Mintardja dengan piawai mampu melakukan itu. Dimana salah satu kerja yang dilakukan SH Mintardja, dengan mengacu pada setting teks sejarah Jawa, dengan jeli mampu melakukan eksplorasi sumber dan data-data historis, sosiologis, politis, antropologis dan geografis dalam karya-karyanya.
Dalam NSSI, yang berlatar suksesi kerajaan Demak misal, ia mengindetifikasikan sumber dan data sosiologis dan geografis dengan detail. Nama tempat seperti, Prambanan, Hutan Tambakbaya –sebelah timur  Jembatan Layang Janti (Yogyakarta) ada nama kampung serta jembatan Tambakbayan–, Alas Mentaok, Pliridan (Pleret), Rawa Pening, Banyubiru, Pengging, Selo, Candi Gedong Sanga dan lainnya, sekarang masih dikenal. Bahkan nama padukuhan (kecil) Cupuwatu (utara Percetakan KR Yogyakarta, persis di sebelah timur kampung kami), sekarang masih bernama sama.
Dengan data sosiologis dan geografis serta setting teks historis yang dihadirkannya, menjadikan pembaca merasa at home di dalamnya. Mereka membayangkan, tokoh-tokoh dalam karya itu “hadir dan atau bahkan mampir” di rumahnya. Inilah satu bentuk nyata – disamping melalui tema-tema yang bersifat neuortik, bahkan politik dan kepetingan karya sastra – peruangan dan pengidentifikasian  “riwayat massa” yang kami maksudkan. Dimana ada begitu banyak jumlah pembaca merasa “menjadi bagian” dan “memiliki”  teks  yang dibacanya, sehingga diam-diam tumbuh — menjadi semacam “politik perayaan teks”– dan mengakar di masyarakat. Kehadirannya menjadi ruang identifikasi, watak, nilai dan mentalitas dan ruang nostalgis pembaca akan hadirnya sebuah “alamat primordial” leluhurnya berada.
Meski secara pribadi, aku kurang menyukai cerita silat. Karena sebagaimana tembakau, miras, nasi dan narkoba, cerita silat bersifat adiktif.  Disamping, tokoh-tokohnya merupakan orang-orang yang serba “adi” (sakti, superlative), yang determinant dengan watak-watak tinggi hati, arogan dan egoistis—presentasi masyarakat premen—yang memperlakukan “hukum, kekuasaan, kebenaran dan harga diri (kehormatan)” diukur lewat “ketebalan otot, kekerasan tulang serta ketajaman senjata” serta hal-hal yang bersifat wadag, nyata dan empiris.  Wajar jika semisal, Ki Ageng Wirasaba (NSSI), yang lumpuh pun nekat menantang perang. Sebuah watak, sikap mental dan nilai-nilai yang paradoks dengan mentalitas Jawa, yang plastis dan kompromis. Orang Jawa yang nota bene lebih mengedepankan nilai-nilai “Sugih tanpa bandha, Ngluruk tanpa bala, Alon-alon waton kelakon, Sing salah seleh, Wong ngalah duwur wekasane, Aja Dumeh, Ngono ya ngono nanging aja ngono”, Aja dadi wong kang rumongsa isa, nanging dadia wong kang bisa ngrumangsani, Aja dadi wong kang cugetan lan panasten” dan lain-lain   Sikap plastis dan kompromis, dalam menyikapai berbagai keadaan dan waktu. Saking plastis dan kompromisnya, orang Jawa (kadang) mampu mentolerir kejahatan gamblang sekalipun. Sebuah sikap toleran yang begitu positif sekaligus amat negatifnya, yang diam-diam menjadi dan membentuk panggung resmi dan tak resmi sejarah serta perpolitikan negeri ini.
Lebih dari itu, cerita silat hanya akan  melambungkan mentalitas ke ranah massifikasi dan mistifikasi (tokoh-tokoh) sejarah yang tak alang kepalang. Kembalinya Mas Karebet (Putut Karang Tunggal, Jaka Tingkir atau Hadi Wijaya) ke kerajaan Demak pasca kesalahannya membunuh Dadung Awuk ataukah karena lancang mencintai putri Sultran Trenggono, dalam NSSI, SH Mintardja membuat versi Karebet bertempur dengan Arya Saloka – Putra Mahkota Negeri Perdikan Banyubiru — di sisi lain versi Babad Tanah Djawa (BTD) Karebet bertempur dengan Mahesadanu; banteng mengamuk di alun-alun Demak, karena disumpal telinganya dengan tanah kuburan.
Dua versi ini hemat kami sama samarnya. Sesamar Perang Paragreg (suksesi Majapahit), yang bertahun-tahun bahkan beratus tahun itu, nota bene cukup terselesaikan dengan sebatang pusaka Wesi Gadha Kuning.  Atau perang antara Arya Penangsang dan Danang Sutowijaya (suksesi Demak) yang memiliki aneka simbol dan tafsir. Perang antara Panembahan Senopati dengan Ki Ageng Mangir Wonoboyo. Demikian pula suksesi Sultan Agung ke Sunan Amangkurat I, sampai suksesi Pangeran Mangkubumi (H B I) ke H B II dengan serat Surya Raja-nya dan lain-lain. Atau jauh sebelumnya pada masa Mataram Kuno antara Wangsa Sanjaya dan Syailendra,  Perang antara Rakai Pikatan dengan Balaputradewa,  Perang antara Tguh Dharmawangsa (Kahuripan) dengan Kerajaan Wura-Wari, yang terkenal dengan Prahara Bumi Jawa dan lain-lain, termasuk yang paling kontroversial dan legendaris adalah kisah Ken Arok dalam Pararaton.
Perang-perang suksesi penuh dengan aneka mitos dan simbol. Sehingga sulit ditentukan versi mana yang mendekati  kebenaran esensial dengan kenyataan sejarah yang terjadi. Pada dasarnya, “kebenaran sejarah” ubahnya simulasi simbol. Ia permainan wacana, sebuah simulasi terbuka, sebagai sarana pelatenan (latent discourse), atas hal-hal wadak (manifest of discourse) sehingga kebenaran esensial menjadi kabur (latent)  dan terabaikan.  Apalagi dalam alur  wajah sejarah yang menganut sistem “interpretasi politis”  serta “kultus individu” , yang terjadi dalam sistem kerajaan konsentris (monarki) kenyataan sejarah tak alang kepalang menjadi sedemikian massif dan kehilangan konteks dengan kebenaran esensial yang logis.
Jean Baudrillard berujar; “Hilangnya tanda, surutnya makna; sebuah Kekacauan yang dahsyat perihal sebuah tanda tunggal dapat menimbulkan akibat secara tiba-tiba”  Sebagaimana Orde Baru dengan “G. 30 S” atau “Kesaktian Pancasila”-nya, meskipun membaca seluruh versinya, ternyata bukan kebenaran sejarah yang didapat, sebaliknya justru membuat kekacauan neurotik  atas kebenaran peristiwa itu. Karena  sejarah sebagai legislasi politis maka demi memupuk hasrat kuasa atau bermegah-megah, manusia seringkali memanipulasi “sejarah” dengan tafsir sejalan arasy kebijakan dan kepentingannya. Wajar jika wajah sejarah memiliki aneka versi-versi yang, bisa jadi antar satu  dan lainnya, serba berseberangan (paradoks). Begitulah, generasi negeri ini selalu dilambungkan dan diombang-ambingkan ke lautan massif sejarah yang tak  habis ujung pangkalnya. Wajar  pula apabila negeri ini kebingungan menentukan masa depannya.

3.    Mataram

Berbicara “Mataram” adalah berbicara mengenai peta historisitas Jawa (Nusantara) yang begitu panjang dan berliku. Ada begitu banyak tikungan, tanjakan dan turunan “intrik-intrik kekuasaan”—biasanya terkait dengan suksesi—yang melelahkan. Karena kata “Mataram” terkait dengan beberapa eksistensi wangsa (kerajaan-konsentris) yang pernah berjaya mewarnai sejarah Jawa, dari masa kuno sampai sekarang. Sebuah proses sivilisasi yang syarat misteri, konflik dan kepentingan yang mencengangkan.
“Mataram” sendiri secara etimologis berasal dari bahasa Kawi “matarum”  yang dimaknai sebagai “sumber (mata air) yang harum”. Suatu makna yang determinan dengan wangsa Mataram Kuno (Sanjaya-Syailendra)  terbukti menjadi sumber mata air historisitas nusantara, dimana nilai-nilainya tak habis-habisnya, mengalir, ditafsir dari hulu hingga akhir, masa lalu sampai sekarang.
Sementara Mataram terkait  sebuah wangsa, setidaknya ada tiga (3) yang dapat diafirmasi. 1) Mataram Kuno, sering disebut Kerajaan Medang (Sanjaya-Syailendra) , 2) Mataram Islam (Kotagede, Kerta, Pleret) serta 3) Mataram Islam (Jawa-Tengahan), pasca Perjanjian Giyanti 1755, mengenai eksistensi keraton Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
1) Berbagai pendapat yang berkembang di dalam epistemologi ilmu sejarah menganggap bahwa Kerajaan Mataram Kuno adalah sekadar kerajaan agraris kecil di pedalaman (Jawa) yang terisolir dengan dunia luar sebagaimana disinyalir kebanyakan sejarawan, antropolog, etnograf seperti Koentjaraningrat, Neogroho Noto Soesanto dan lain-lain. Namun ternyata anggapan itu keliru. Karena Mataram Kuno, jauh lebih besar dan lebih hegemonik dari apa yang kita perkirakan. Terlebih sejak  Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM  jurusan Arkeologi menemukan  pecahan keramik Cina berasal dari Dinasti Tang pada abad IX dan pecahan kaca asal Persia, di komplek Candi Dieng (2-11 Juni 2010). Temuan ini memberi bukti dan indikasi kuat, sesungguhnya Peradaban Dieng khususnya, dan atau Kerajaan Mataram Kuno umumnya, adalah kerajaan besar yang mempunyai reputasi serta hubungan sangat luas dengan dunia internasional.
Yang pasti, setelah  migrasi orang-orang Keling pada pra dan awal-awal abad pertama masehi, kemudian terjadi proses sivilisasi yang terus menerus, akhirnya menjadikan Dieng, sebagai tonggak berdirinya Wangsa Mataram Kuno (Sanjaya dan Syailendra), sekaligus sebagai simbol sistem peradaban besar awal di Jawa. Candi-candi di dataran tinggi Dieng, disebut-sebut sebagai bangunan megalitik paling awal di pulau Jawa. Selain itu candi-candi ini memiliki keterkaitan kuat dengan gaya (kerajaan) Gupta dan Calukya (India Selatan), yang mencapai keemasannya pada awal abad 4 M .
Yang pasti, Mataram Kuno yang mencapai puncaknya pada abad 8-9 M, dengan bukti-bukti peninggalannya berupa candi-candi besar (Borobudur, Prambanan, Sari, Pawon, Mendut dll), adalah kerajaan besar yang telah menjalin hubungan sangat luas. Khususnya dengan kerajaan-kerajaan besar di Asia Timur hingga Asia Barat. Bahkan hubungan itu, hemat kami mungkin jauh lebih luas dari apa yang kita bayangkan. Yakni dengan imperium-imperium besar dunia pada umumnya.  Tidak saja India—poros religiusnya (Hindu-Buddha)—tetapi juga hubungan ekonomi (perdagangan), sosial budaya, termasuk sivilisasi masyarakatnya.
Selain itu candi-candi di Dataran Tinggi Dieng yang dibangun dari abad VIII sampai abad XIV M. Yakni sejak awal kejayaan Mataram Kuno sampai masa keemasan Majapahit. Artinya periode historisitas yang panjang itu, hanya memberi bukti dan afirmasi, bahwa masa keemasannya Mataram Kuno mampu membangun perdaban besar dan berpengaruh. Masa keemasan itu setidaknya pertama terjadi pada masa Samagrawaira atau Samaratungga (Syailendra/ Buddha), yang mempunyai seorang arsitek/ intelek, Gunadarma, yang sanggup membangun Candi Borobudur (kamulan i bhummi sambarabudara). Kedua setelah perkawinan Rakai Pikatan (Sanjaya/Hindu) dengan Sri Kahulunan atau Pramodawardhani (Putri Samaratungga, Buddha), yang mempertemukan dua sistem wangsa (Sanjaya/Syailendra) dengan dua sistem keyakinan (Hindu-Buddha) menjadi “Syiwabuddha”, selanjutnya ajaran Syiwabuddha memuncak pada masa Rakai  Kayuwangi Dyah Lokapala (855 – 885 M).
Rakai Kayuwangi disebut-sebut mendirikan Candi Prambanan–ikon  persatuan dan kesatuan Wangsa Mataram Kuno; mempertemukan dua wangsa dan dua keyakinan. Yakni Sanjaya (Hindu) dan Syailendra (Buddha), yang masa-masa sebelum terus bertikai memperebutkan pengaruh.– yang  pembangunannya baru berakhir masa Rakai Watukura Dyah Balitung (898-908 M). Dua sistem wangsa dan keyakinan itu menjadi batu ganjalan yang tak habis-habisnya merecoki kehidupan sosial politik Mataram Kuno. Rakai Kayuwangi berhasil menuntaskan intrik-intrik politik — konflik dan perlawanan sentimen wangsa, yang ditinggalkan Rakai Pikatan. Artinya dengan kekalahan Balaputradewa  atas Rakai Pikatan dan menyingkir ke Sumatra, selanjutnya bertahta kerajaan Sriwijaya, kekuasaannya Kayuwangi tidak direcoki lagi oleh sentimen wangsa. Sehingga ia berkuasa penuh atas seluruh tanah Jawa dan Bali serta beberapa negara sekutu di Luar Jawa
Konsepsi Syiwabuddha dikekalkan dalam bentuk Candi Prambanan. Fakta historis hal ini nampak pada struktur rancang bangun (arkhitektonik) Candi Prambanan, yang tidak bercorak Hindu maupun Budhha. Puncaknya berbentuk stupa (Buddha) sementara badan candi dihiasai patung dewa-dewi Hindu, dengan gaya ukirnya dan arsitektural khas Hindu. Selain itu, Candi Prambanan  dimaksudkan sebagai mandala  atas Mataram Kuno. Sebagai center of mind sistem kehidupan sosial politik dan budaya, serta nol kilometer (pusat kota) Mataram Kuno. Hal ini nampak nyata, adanya 219 Candi Perwara di komplek Prambanan, menunjukkan bahwa kekuasaan Mataram Kuno meliputi 219 kerajaan kerajaan lain yang dipersatukan di bawah tampuk kekuasaannya.
Berdasarkan kronologi dari Prasasti Canggal dan Prasasti Wanua Tengah, Setelah Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala (855 – 885),  tidak ada lagi raja yang besar. Dimana penggantinya Dyah Tagwas (885 – 885), Rake Panumwangan Dyah Dewendra  (885 –887 ), Rake Gurunwangi Dyah Bhadra (887 – 887), Rake Wungkalhumalang Dyah Jbang (894 – 898), Rake Watukura Dyah Balitung (898 –908), sehingga untuk melegitimasi kekuasaannya di hadapan rakyat yang diacunya, Rakai Watukura Dyah Balitung susah payah mengeluarkan prasasti Canggal di Gunung Wukir, hanya untuk menyatakan bahwa dirinya merupakan keturunan raja-raja besar yang berkuasa sebelumnya. Sepeninggal Balitung selanjutnya Daksa, Tulodong, Wawa yang sama sekali tak berpengaruh serta tidak ada catatan sejarah (prasati) yang penting. Selanjutnya Mahamantri i-hinno Mpu Sindok – jabatan setelah raja masa Wawa – memindahkan kerajaannya ke Lembah Brantas  dan mendirikan Wangsa Isyana , yang kelak menjelema menjadi Kerajaan Kahuripan. Dari Kahuripan secara genealogis menurunkan kerajaan Kediri dan Singhasari. Dari Singhasari melahirkan kerajaan Majapahit, hingga Kerajaan Demak dan selanjutnya Kerajaan Pajang. Suksesi Kerajaan Demak inilah yang menjadi setting teks Nagasasra dan Sabuk Inten SH Mintardja.
2). Mataram Islam (1588-1681). Kota Gede (1588-1613), Kerta (1613-1647) Plered (1647-1681),– yang diidentifikasi SH Mintardja dalam  Api Di Bukit Menoreh–adalah kerajaan Islam yang didirikan Sutawijaya, yang mendapat hadiah sebidang tanah dari raja Pajang, Hadiwijaya, karena keberhasilan menumpas pemberontakan Arya Penangsang dari Jipang . Kerajaan Mataram pada masa keemasannya dapat menyatukan tanah Jawa dan sekitarnya termasuk Madura serta meninggalkan beberapa jejak sejarah yang dapat dilihat hingga kini, seperti wilayah Matraman (Jakarta) dan sistem persawahan di Krawang.
Sutawijaya naik tahta dengan gelar Panembahan Senopati, setelah ia merebut wilayah Pajang dari Pangeran Benawa (sepeninggal Hadiwijaya). Pada saat itu wilayahnya hanya di sekitar Jawa Tengah. Pusat pemerintahan berada di Mentaok (terletak kira-kira di timur Kota Yogyakarta). Lokasi keraton pada masa awal terletak di Banguntapan, kemudian dipindah ke Kotagede. Sesudah meninggal (dimakamkan di Kotagede) kekuasaan diteruskan putranya Mas Jolang  bergelar Prabu Hanyokrowati. Pemerintahan Hanyokrowati tidak berlangsung lama. Wafat karena kecelakaan saat berburu di hutan Krapyak (disebut Susuhunan Seda Krapyak atau Panembahan Seda Krapyak)  Tahta beralih sebentar ke tangan putra keempat Mas Jolang yang bergelar Adipati Martoputro, yang menderita penyakit syaraf sehingga tahta beralih ke putra sulungnya, Mas Rangsang, yang bergelar Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo (Sultan Agung). Pada masanya Mataram berekspansi untuk mencari pengaruh di Jawa. Wilayah Mataram mencakup Pulau Jawa dan Madura (kira-kira gabungan Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur sekarang). Masa inilah yang menjadi setting teks, ensiklopedia Serat Centini.
Sultan Agung memindahkan lokasi kraton ke Kerta (Mataram Kerta). Akibat gesekan dalam penguasaan perdagangan antara Mataram dengan VOC yang berpusat di Batavia, Mataram lalu berkoalisi dengan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon dan terlibat dalam beberapa peperangan antara Mataram melawan VOC. Setelah wafat (dimakamkan di Imogiri), ia digantikan oleh putranya yang bergelar Amangkurat (Amangkurat I)
Amangkurat I memindahkan lokasi keraton ke Pleret (1647), tidak jauh dari Kerta. Selain itu, ia tidak lagi menggunakan gelar sultan, melainkan “sunan” (dari “Susuhunan” atau “Yang Dipertuan”). Pemerintahan Amangkurat I kurang stabil karena banyak ketidakpuasan dan pemberontakan. Pada masanya, terjadi pemberontakan besar dipimpin Trunajaya dan memaksa Amangkurat bersekutu dengan VOC. Ia wafat di Tegalarum (1677) ketika mengungsi sehingga dijuluki Sunan Tegalarum. Penggantinya, Amangkurat II (Amangkurat Amral), sangat patuh pada VOC sehingga kalangan istana banyak yang tidak puas dan pemberontakan terus terjadi. Pada masanya, kraton dipindahkan lagi ke Kartasura (1680),  5 km sebelah barat Pajang karena kraton lama dianggap telah tercemar.
Pengganti Amangkurat II berturut-turut adalah Amangkurat III (1703-1708), Pakubuwana I (1704-1719), Amangkurat IV (1719-1726), Pakubuwana II (1726-1749). VOC tidak menyukai Amangkurat III karena menentang VOC sehingga VOC mengangkat Pakubuwana I (Puger) sebagai raja. Akibatnya Mataram memiliki dua raja dan ini menyebabkan perpecahan internal. Amangkurat III memberontak dan  tertangkap di Batavia lalu dibuang ke Ceylon.
3). Mataram Pasca Perjanjian Giyanti. Kekacauan politik baru dapat diselesaikan pada masa Pakubuwana III setelah pembagian wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta tanggal 13 Februari 1755. Pembagian wilayah ini tertuang dalam Perjanjian Giyanti (nama diambil dari lokasi penandatanganan, di sebelah tenggara kota Solo Jawa Tengah). Berakhirlah era Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah. Walaupun demikian sebagian masyarakat Jawa beranggapan bahwa Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta adalah “ahli waris” dari Kesultanan Mataram.

4. Cerita Silat, Kerajaan Konsentris dan Kultus Individu

Menilik sejarah Mataram yang panjang itu, ada anutan nilai yang pasti; bahwa pertama, sistem pemerintahan yang dianut adalah sistem pemerintahan kuno, monarki (kerajaan konsentris) yang memusat pada raja. Kedua, sistem kepemimpinan yang dianut adalah kepemimpinan tradisisional bertumpu pada raja dengan keraton sebagai basis legitimasi sentralnya. Kraton, menurut Franz Magnis Suseno,  adalah tempat bersemayamnya raja dan raja merupakan sumber kekuatan kosmis yang mengalir ke daerah, membawa ketentraman, keadilan dan kesuburan.
Faham ini terungkap dengan jelas, dalam gelar para penguasa keempat kerajaan di Jawa Tengah hasil perpecahan Mataram II (pasca Perjanjian Giyanti 1755 dan Perjanjian Salatiga 1757). Kedua penguasa Yogyakarta menyebut diri Hamengku Buwana (yang merengkuh jagad raya), dan Paku Alam, para penguasa Surakarta bernama Paku Buwana (paku jagad raya) dan Mangkunegara (yang memangku negara)
Masa Mataram pra-Islam, raja dianggap membawa esensi kedewataan di dunia. Sedangkan pada zaman Islam (khususnya Mataram II), raja bergelar Khalifatullah Sayidin Panatagama (Khalifah Allah, yang bertugas menjaga dan memelihara tata ketentraman politik dan spiritual, sekaligus ia seorang sayid, yang bertugas menata (kehidupan) agama. Sebuah gelar yang menggabungkan antara kekuasaan politik dalam arti politik sebagai kekuasaan pada umumnya maupun politik sistem birokrasi kelembagaan khususnya, serta kekuasaan spiritual, dalam arti umum maupun yang bersifat khusus yang bersumberkan dari teologi (iman) ajaran agama.
Ketiga, kekuasaan Jawa adalah ungkapan energi Ilahi yang tanpa bentuk, yang selalu kreatif meresapi seluruh kosmos. Kekuasaan bukanlah gejala khas sosial yang berbeda dari kekuatan-kekuatan alam, melainkan ungkapan kekuatan kosmis yang dapat kita bayangkan  semacam fluidem yang memenuhi seluruh kosmos .

“kekuasaan (dalam faham tradisional Jawa) politik dipahami sebagai ungkapan energi halus alam semesta. Kekuasaan hakekatnya adalah salah satu bentuk operasional tenaga gaib alam semesta sendiri. Jadi kekuasaan bukanlah sekedar bentuk hubungan tertentu antarmanusia, bukan suatu gejala khas kehidupan bermasyarakat yang ada sangkut pautnya dengan kekuatan-kekuatan alam, melainkan sama dengan kekuatan sosial dan alamiah lainnya, berakar pada kekuatan gaib dan adiduniawi alam semesta sendiri .

Keempat, paham kekuasaan Jawa, merupakan paham kekuasaan religius, yang menyatakan  “hakekat kekuasan–kekuasan politik– bersifat adiduniawi dan adimanusiawi, berasal dari alam gaib yang termasuk Yang Ilahi. Manusia yang berkuasa dengan demikian bukan manusia biasa, melainkan ikut termasuk alam adiduniawi itu. Raja merupakan medium yang menghubungkan mikrokosmos manusia dan makrokosmos Tuhan
Karena kekuasaan Jawa merupakan ungkapan kasekten dari individu-individu (raja) pemilik kekuasaan itu, maka dalam kerangka itu, penguasa dipahami sebagai manusia yang “mampu menyadap kekuatan-kekuatan yang berada di dalam alam semesta” Ia seakan dapat mengontrol kekuatan kosmis, yang menyatakan diri dalam wilayah kekuasaannya . Kekuasaan raja (ratu  paham Jawa) dapat dimengerti sebagai orang yang memusatkan suatu takaran kekuatan kosmis yang besar dalam dirinya sendiri, sebagai orang yang sakti sesakti-saktinya.
Kasekten seorang raja diukur pada besar kecilnya monopoli kekuasaan yang dipegangnya. Kekuasaannya semakin besar semakin luas wilayah kekuasaannya dan semakin eksklusif segala kekuatan dalam kerajaan berasal dari padanya. Karena kekuasaan yang berpusat dalam penguasa sedemikian besar, sehingga semua faktor yang bisa mengganggu kehilangan kekuatanya, seakan-akan dikeringkan; daya pengacau  pihak yang berbahaya seakan diisap ke dalam raja. Dari sinilah maka kerajaan akan mencapai ketentraman dan keadilan .
Karena  sedemikian besar pemusatan kekuasaan yang ada pada raja, yang notabene merupakan refleksi langsung dari besarnya kasekten, yang dimilikinya, dan karena semua, baik manusia, alam, dan benda-benda yang ada di lingkungan (radius) kekuasaannya terisap ke dalamnya, wajar jika pengacau, yang tertangkap dan dinyatakan bersalah, ia sama sekali pasrah menerima hukuman, tak sedikit pun ada perlawanan. Karena bagi mereka, semua itu dianggap sebagai pepesten (takdir), yang datang dari pusat kekuasaan (Yang Ilahi), maka hal itupun harus diterima dengan pasrah (tanpa suwala). Sabda Pandhita Ratu tan kena wola-wali (sabda raja pendeta, raja ilahi tak dapat berubah-ubah atau sebuah kepastian)
Lewat ungkapan kasekten ini pula – dalam NSSI – SH. Mintardja berpikir  bahwa Sultan Trenggana adalah orang sakti, yang memiliki berbagai macam ilmu kanuragan. Sehingga, untuk menumbangkan kerajaan Demak, semua orang – termasuk tokoh-tokoh sakti golongan hitan – harus orang-orang sakti yang mampu mengumpulkan rumbai-rumbai kekuasaan, salah satunya mendapat sepasang keris Nagasastra dan Sabuk Inten, yang dimassifikasi sebagai “keris Jaka Piturun”, dalam kisah itu.
Artinya, Sultan Trenggana—demikian raja-raja lain—naik tahta karena kesaktian yang dimiliki, dan bukan karena keahlian atau startegi politiknya. Sebab seorang yang ahli strategi politik misal Gadjah Mada sekalipun, terbukti tidak menjadi raja. Dalam sistem kerajaan konsentris, strategi politik, biasanya justru (harus) dimiliki Sang Nayaka. Khususnya Patih. Dimana untuk urusan dalam negeri (nagaragung) di pedang “patih njero”.  Sementara untuk urusan hubungan luar negeri (kerajaan) lain (manca),  kewajiban “Penjawi”.
Kelima, sistem kerajaan konsentris, “raja” hanya menjadi kekuatan simbolik—sebagaimana permainan catur, meski semua aparatnya habis, jika raja belum tumbang, ia belum dianggap kalah—yang dikultuskan. Karena keenam, pada dasarnya, kerajaan kuno yang bersifat konsentris, memang dibangun atas alur  wajah sejarah bersifat “kultus individu”, yang mengandaikan, kejadian-kejadian, dimotivasi  kekuatan dinamik orang-orang besar , dimana faktor utama terbentuknya sejarah adalah faktor manusianya. Manusia dianggap satu-satunya yang mengkreasikan kejadian.

“…bahwa manusia yang mempunyai kekuasaan itulah yang menentukan bentuk dari kekuasaan yang berada di dalam tangannya. Apakah ia mengabdikan kekuasaan itu untuk nilai-nilai kemanusiaan atau dengan kekuasaannya ia justru menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan itu”

Hanya orang besar, yang sanggup menumpuk berbagai atribut dan rumbai-rumbai kekuasaan, plus orang yang mendapat wahyu keprabon (izin dari langit), yang bisa menjadi raja. Wajar jika setiap raja kuno –sebagaimana  Rakai Watukura Dyah Balitung yang membuat Prasasti Canggal di gunung Wukir—dalam rangka mendapat legalitas serta memupuk kekuasaan ia memassifikasi dirinya dengan tokoh-tokoh leluhur (massif) besar. Sekaligus upaya ini sebagai wahana untuk mengidentifikasi publik  (rakyat) yang diacunya
Ketujuh, dalam sistem politik kerajaan patrimonial, raja yang dianggap sebagai pemilik kerajaan, kekuasaannya, hanya dianggap sah apabila mereka keturunan resmi pendiri kerajaan dari pihak ayah yang didukung segenap anggota dan warga lainnya. Alat pengesahan yang digunakan adalah garis keturunan (genealogis) yang merupakan titik hubung antara klan yang memerintah dengan klan atau nenek moyang yang diidealkan. Yaitu mereka yang dianggap sebagai ke¬seluruhan leluhur.
Dalam hal ini Babad Tanah Djawi (dengan gamblang, meski kadang dengan cara sangat massif dan  terkesan mengada-ada) menghubungkan raja-raja Mataram dengan dinasti-dinasti sebelumnya, misalnya dinasti Majapahit, Singasari, Kediri, Kahuripan, dunia Pewayangan (Parikesit, Arjuna, Sakri dan seterusnya), dunia dewa-dewa Hindu seperti Brahma, Guru (Siva), Wenang-Wening, Sang Hyang Tunggal dan seterusnya. Pangkal genealogi itu adalah tokoh Nabi Adam .
Dari kenyataan ini, akhirnya di Jawa (Mataram) disadari atau tidak, memiliki dua konsep leluhur. Yakni “leluhur historis”, (Garis Penengen) yaitu leluhur yang memiliki garis kait genealogis secara sah, pasti dan baku. Serta “leluhur mitis” (Garis Pangiwa) sebuah konsep leluhur yang berdasarkan anutan mitos. Atau anutan leluhur yang berdasarkan massifikasi dan mistifikasi nilai  idealitas yang bergerak di dalam ranah esoterik (keyakinan) dari orang-orang suatu masyarakat.
Kedua konsep leluhur itu seringkali bersifat tidak pasti, relatif dan saling tindih bahkan paradoks. Yang mitis bisa jadi (dianggap) historis, dan sebaliknya, yang historis, termasifikasi menjadi mitis. Contoh nyata adalah keberadaan Sunan Lawu, yang menurut keyakinan Mataram 3 nota bene ada tiga orang. Yakni “Sunan Lawu Tua” (Prabu Brawijaya (?) Majapahit) “Sunan Lawu Tengah” (Panembahan Senopati, pendiri Mataram II), “Sunan Lawu Muda” (Pangeran Sambernyawa/ Raden Mas Sahid, pendiri kerajaan (Pura) Mangkunegaran). Atau keberadaan Syekh Jumadil Kubro, yang berkuasa di Gunung Merapi, di mana nota bene Syekh Jumadil Kubro adalah ayah (kakek)  Sunan Kudus.
Di sini tokoh yang mestinya historis, termasifikasi, atau menjadi leluhur mitis, ketika ia sampai sekarang masih dipercaya sebagai penguasa tempat-tempat (suci) tersebut. Sebaliknya, contoh leluhur mitis yang terhistorisasi adalah keberadan Kanjeng Ratu Kidul (Nyai Rara Kidul) yang dipercaya sebagai penguasa laut selatan. Historisasi Kanjeng Ratu Kidul terjadi, ketika ia diyakini me¬lakukan perkawinan dengan raja-raja Mataram. Sehingga para trah Mataram, menyebutnya dengan sebutan “Eyang Ratu Kidul”.
Dalam karya-karya SH. Mintardja, keberadaan tokoh-tokoh semisal  Simalodro di Alas Purwo (Banyuwangi), Bugel Kaliki di Gunung Cerme, Simolodra Muda di Gunung Tidar, Pasingsingan di Alas Mentaok, Ki Ageng Pandan Alas di Gunung Kidul, Sepasang Uling di Rawa Pening dan lain-lain, hanya menegaskan dan melanjutkan akan keberadaan leluhur mitis ini.
Begitulah kiranya jika sebuah kerajaan agrarian-konsentris, ditegakkan berdasarkan ikatan darah, yang menganut garis patrimonial, di mana garis genealogis menjadi kunci resmi atau tidak resminya dan sah atau tidaknya, seseorang memerintah (menjadi raja) di suatu wilayah. Dari kenyataan ini pulalah, hampir seluruh trik dan intrik  serta isu di sekitar suksesi politik kekuasaan kerajaan bermula dan berakhir. Di mana untuk mengukuhkan eksistensi dan basis legitimasi kekuasaan dan dirinya, seseorang (raja) merasa sah dan perlu meneguhkan ikatan primordial dengan leluhurnya. Itu pulalah yang akhirnya melahirkan berbagai ritus religius primordial sehubungan dengan identifikasi makna sebuah ruang yang dianggap sebagai tempat bertahtanya para leluhur (baik mitis maupun historis) tersebut.
Kedelapan, sistem kekuasaan demikian menjadikan wajah sejarah mengikuti konstruk “interpretasi politis”. Dimana, sejarah adalah serangkaian  dinasti, hukum, pertempuran, raja-raja yang kuat dan lemah, peperangan yang menang atau kalah, hukum-hukum yang baik atau buruk  . Dan perang dianggap sebagai satu-satunya jalan penyelesaian, dan tidak ada kompromi baginya.
Kesembilan,  dengan demikian, sebagai bentuk nilai, kekekuasaan, keberanan, hukum, bahkan nilai-nilai kehormatan, keluhuran dan lain-lain, adalah segala sesuatu yang bersifat nyata, kongkrit (empirik), yang dapat dilihat, didengar dan dapat diderivasi dengan panca indra.  Mereka hanya mengakui kehebatan dan keluhuran serta kekuasaan orang dan bersedia tunduk kepadanya manakala mereka sanggup, misalnya menang perang di berbagai medan. Dimana “Tebalnya otot, kerasnya tulang, tajamnya senjata, banyaknya harta, tingginya ilmu” adalah hal-hal nyata yang dapat menjadi sumber-sumber penumpukan kekuasaan kuno.

4.    Setting Teks Cerita Silat

Dan hanya dalam sistem serta nilai-nilai demikianlah setting cerita silat memungkinkan ditulis. Artinya cerita silat, hanya mungkin dibangun di atas fondasi setting teks politik makro yang bersifat konsentris (kerajaan) dan, tidak akan mungkin serta akan sangat wagu jika dibangun di atas fondasi sistem politik makro yang bersifat demokratis.
Tahun 1990, saya pernah menjadi saksi duel antara pendekar silat sabuk hitam dengan seorang preman, yang mengadalkan jurus waton nekat, dimana sang pendekar silat justru klenger dan berdarah-darah. Karena sebelum sempat sang pendekar melancarkan jurus-jurus andalannya ia lebih dahulu telah dihajar membabi buta oleh preman.
Pasalnya perang model cerita silat —sebagaimana dalam ketoprak dan perwayangan– menganut nilai, sistem, aturan dan hukum kuno. Dimana pertama, sebelum perang, terlebih dahulu ditentukan sistemnya. Mau model Perang Brubuh (perang bersama-sama) atau perang tanding satu lawan satu. Untuk itulah sebelum perang mereka akan melakukan perundingan. Bahkan  tampak nyinyir, selalu saling memperkenalkan diri masing-masing “Sapa jenengmu, ngendhi dangkamu, sak durunge jengkelang kwandamu” adalah ungkapan yang paling sering kita dengar, baik dalam wayang, cerita silat maupun ketoprak.  Kedua, dalam perang kuno, ada aturan waktu yang jelas, yang didasarkan pada terbit dan tenggelamnya matahari. Demi matahari terbit, perang baru dimulai dan berakhir tepat waktu, pada saat matahari tenggelam. Maka terjadi ironi untuk ukuran pikiran modern, pada saat istirahat (malam hari), kedua musuh bebuyutan ini, bisa saling mengunjungi, tolong menolong, mengobati, bahkan—secara sarkas—bisa saling bercengkerama sambil ngopi. Seperti terjadi pada kisah Salahuddin Al Ayubi melawan Pangeran Richard II dalam Perang Salib.
Ketiga, perang model kuno ini sangat menjunjung tinggi nilai-nilai ksatria, kehormatan dan sportivitas. Dimana perang model kuno ini, hanya akan menggunakan senjata, ketika musuhnya juga bersenjata. Hanya akan menggunakan ilmu kanuragan (tenaga dalam), jika musuhnya juga menggunakannya. Maka bukan suatu yang mustahil jika antara keduanya bisa saling pinjam memimjamkan sejatanya dan setiap yang bertempur—dalam perang tanding satu lawan satu—mempunyai kesempatan untuk mengeluarkan jurus-jurus terbaiknya satu persatu.
Berbeda dengan perang modern, biasanya bersifat sporadis, tanpa aturan, sistem dan waktu yang pasti. Gasak lebih dahulu, dengan konsep siapa cepat siapa dapat.  Urusan siapa, darimana – sebagaimana Densus 88 – adalah urusan belakangan (urusan Otopsi). Dalam perang modern, perundingan hanya mungkin terjadi jika terjadi gencatan senjata. Sementara jumlah personel, kecanggihan peralatan dan senjata, serta efektifitas waktu, menjadi strategi memenangkan perang. Sehingga sikap ksatria, kehormatan dan sportivitas adalah nilai yang hilang  (utopia).
Keburukan perang kuno adalah kebiasaannya “memelihara dendam” berkepanjangan. Karena perang model kuno dianggap perang suci.  Dimana kalah dan menang bersifat hitam-putih. Dianggap menang, jika sudah tidak ada musuh yang bercokol di muka bumi. Sedangkan kehormatan  pihak yang kalah adalah kematian. Perang suci adalah perang tanpa kata “kompromi”, dimana kompromi dianggap kejahatan. Sementara perang modern biasanya perang ekonomi dan kepentingan, sehingga mereka akan kompromi jika dianggap telah merugikan.

6. Cerita Silat: Massifikasi dan Mistifikasi Sejarah

Ironisnya, kebiasaan “memelihara dendam berkepanjangan” menjadi strategi penulis cerita silat memanjang-panjangkan kisahnya. Lebih ironis lagi sejarah nasional kita, banyak dibangun dari referensial cerita silat yang nyinyir, yang memanjang-panjangkan kisah dan memelihara “dendam dan pertikaian” ini.
Tak bisa dimungkiri, penulisan sejarah nusantara, banyak direkonstruksi dari kitab-kirab massif yang berbentuk serat dan babad– seperti Serat Kanda, yang ditulis Yasadipura dan Babad Tanah Djawa — yang ubahnya cerita silat. Serat Babad Tanah Djawa yang paling terkenal adalah Serat Pararaton, yang mengisahkan asal usul Ken Arok atau Sejarah Berdirinya kerajaan Singhasari. Selain masih ada Babad Demak, Babad Cirebon, Babad Mangkubumi, Babad Pakepung, Babad Sangkalaning Mamona, Babad Pakunegaran dan lain-lain–yang isinya bercampur baur antara fakta (kenyataan sejarah) dengan mitos. Bahkan kisah mitosnya  lebih mendominasi ketimbang fakta sejarahnya. Selain itu nama-nama, serta angka tahunnya sering tidak sesuai dengan fakta sejarahnya. Karena serat dan babad direkonstruksi, berdasarkan dongengan dan ingatan orang semata. Sehingga sulit dipercaya kebenarannya. Bahkan orang Jawa sendiri pun, meragukan kebenaran.  Dan apa yang dilakukan SH Mintardja (dan juga Herman Pratikto), dengan karya-karya, tak lebih merupakan penerusan atau mengambil inspirasi dari tradisi penulisan Babad Tanah Djawa.
Serat dan babad sendiri baru ditulis akhir abad 18 M. Dimana masa itu Bangsa Indonesia (Jawa) sedang berada situasi kuatnya hegemoni kolonial Belanda. Peristiwa paling tragis, terjadi pada 11 Desember 1749, dalam situasi sekarat Susuhunan Paku Buwana II, penguasa tunggal Mataram, menandatangani dan menyegel akta penyerahan, yang isinya seluruh Kerajaan Mataram diserahkan kepada Belanda  Peristiwa ini menandai, orang-orang Jawa saat itu benar-benar kehilangan tokoh (pahlawan)  panutan. Sehingga mereka mengalami sindrom narsistik tokoh nasional yang bisa menjadi idolatry. Dalam situasi demikian ketika mereka merenungkan kondisi ideal negara bangsanya, ia mencari identifikasi “massif” ke dalam keagungan masa silam. Ke tokoh wangsa-wangsa yang pernah berjaya di masa lalu.
Karena mengalami sindrom mentalitas narsistik, ketiadaan tokoh panutan, ketika mereka mencoba menulis sejarah (babad) kemudian membuat simulasi historis atas wacana teks, dengan melebih-lebihkan atau memassifikasi tokoh-tokoh masa lalu sedemikian rupa, hingga seakan mereka manusia setengah dewa dengan aneka kharisma, kesaktian, kelebihan, dan kewibawaan untuk menyatakan bahwa negerinya adalah negeri besar, mempunyai nilai-nilai yang tinggi dan superlatif (adi luhung). Selain itu juga untuk hiburan (neurotic) atas derita dan kekalahan demi kekalahan dari bangsa penjajah. Yakni untuk mengobati bimbang-galau gundah gulana (nggrates, ngenes, nelangsa, ngelus dada) berkepanjangan, karena tidak ada tokoh yang dapat memberi harapan dan kebanggaan bagi diri dan negerinya. Memassifikasi dan mistifikasi tokoh-tokoh masa lalu itu, selain untuk membangun citra-keagungan (keabsahan atau legalitas kekuasaan), sekaligus untuk membangkitkan semangat dan jiwa kepahlawanan dan perlawanan terus menerus (maju terus pantang mundur, rawe-rawe rantas malang-malang putung, melawan keterbatasan dan ketertidasan) pada jiwa (generasi muda) pembacanya, seperti apa yang di tulis SH. Mintardja di atas.
Namun ironisnya, dari data-data massif Babad Tanah Djawa, inilah para sejarawan kita banyak mengambil referensialnya. Sehingga menghasilkan alur  penulisan sejarah yang salah kaprah. Sebut misalnya nama Brawijaya. Prof DR. Slamet Muljana (l968)  dalam merokontruksi urutan nama raja-raja Majapahit justru sama sekali tidak menyebut nama Raja Brawijaya. Demikian juga dalam kronik-kronik maupun buku sejarah resmi yang di tulis orang asing.
Makna kata Brawijaya sendiri sesungguhnya berasal dari kata bahasa Kawi “bhre” atau “abra” yang artinya, cahaya, nyala, atau sinar. Sementara “wijaya” merujuk pada nama Raden Wijaya yang bergelar Sangramawijaya Kertarajasa Jayawardhana, pendiri wangsa (kerajaan) Majapahit. Jadi kata Brawijaya,  bermakna sinar atau cahayanya (Raden) Wijaya.
Sehingga berdasarkan istilah, Brawijaya bukanlah nama seorang raja. Melainkan nama-nama raja yang merupakan keturunan atau alur waris (genealogis) dari Raden Wijaya Majapahit. Sehingga seluruh nama raja Majapahit pasca Raden Wijaya—sejauh ia masih satu garis genealogis—adalah Brawijaya. Bahkan raja-raja Mataram Islam  pun boleh juga bergelar Raja Brawijaya. Yakni mengikuti alur genealogis dari Danang Sutawijaya, pendiri kerajaan Mataram.
Ironisnya nama Brawijaya yang ada dalam Babad Tanah Djawa maupun Serat Kanda, biasanya selalu muncul yang biasanya berkaitan dengan penulisan sejarah Demak, berkait asal-usul Raden Patah (Pangeran Jimbun), nota bene putra Raja Brawijaya V (?). Selain itu, kini banyak institusi (resmi) memakai nama Brawijaya. Misalnya Universitas Brawijaya (Malang) serta Kodam (Komando Daerah Militer) V Brawijaya. Lalu pertanyaannya identifikasi historis-praksisnya harus dibawa kemana? Kepada tokoh siapa? Padahal idealitas nama, bukan tanpa makna. Tetapi memiliki basis nilai-nilai ideal bahkan makna filosofis.
Lebih ironis lagi, ketika membaca asal-usul dinasti Mataram Islam, selalu muncul nama tokoh “Lembu Peteng” (BTD), padahal “lembu peteng” adalah sebuah ikon atau simbol untuk konsep “garwa ampil”, yang dipakai raja dalam beberapa saat (part time atau bahkan short time) semata.  Dan penulisan sejarah demikian sering kita baca dalam penulisan sejarah ilmiah-modern.

7. Sejarah Yang Samar dan Tragik.

Yang pasti, ubahnya cerita silat, sejarah nasional kita adalah sejarah politik persilatan (lidah) yang (hampir-hampir tak) terbaca. Begitu banyak celah dan ruang gelap yang menganga. Karenanya banyak peristiwa yang sulit diinterpretasi dan ditafsirkan menjadi peristiwa sejarah. Penyebab semua itu: Pertama, rakyat (bangsa ini) sejak dahulu – bahkan hingga kini – kurang memiliki kesadaran kewaktuan (historisitas), terkait dimensi epistemologi (intelektualitas). Kedua, adanya mentalitas siklik yang demikian nyata dan melebar —mengkonsepsi ruang-waktu pengungalangan (cakramanggilingan), dimana kesempurnaan ada di masa lalu in illo tempore (asal mula) – karenanya, masyarakat lebih berorientasi ke masa lalu dan kurang memiliki imajinasi ke depan. Semisal, setiap  jelang suksesi kepemimpinan, opini politik masyarakat dikebaki  mitos mesianik Ratu Adil; siapa tokoh “Satria Piningit” yang membawa dan mempresentasikan diri (pemilik) Jaka Piturun, Sang Parikesit (Mahabarata), Sang Herucokro, atau Imam Mahdi, yang secara genealogis dikaitkan dengan eksistensi kerajaan Majapahit dan Mataram (Islam).  Tokoh-tokoh nasional dari Sultan Agung, Diponegoro, HOS Cokroaminoto hingga Ir Soekarno, pernah diindentifikasi sebagai presentasi ‘ratu adil” sang messianik . Dampaknya mereka kurang memperhatikan masa depan, tidak memiliki orientasi dan gradasi mentalitas  membangun masa depan.
Ketiga, dalam pengertian ini, masyarakat memiliki mentalitas dan ingatan sosial buruk. Mereka sering dan sangat abai hal-hal yang terjadi di masa lalu. Sehingga kekayaan masa lalu (sejarah) menjadi tak termaknakan, hilang  percuma. Lebih dari pada itu, tidak bisa belajar  kebaikan dan keburukan (sejarah) masa lalu. Sehingga bangsa ini terlalu mudah terjatuh pada peristiwa (sejarah) pahit sama. Meski faham, seekor keledai dungu sekalipun tidak akan terjatuh pada lubang yang sama. Namun kenyataan itu membayang di depan mata.
Keempat dari konsepsi waktu siklik itu, muaranya masyarakat lebih banyak memiliki mentalitas partisipasi mistik. Sejarah, bukan ilmu yang bersifat epistemologis. Sejarah terlalu banyak bercampur dengan mitos dan kegaiban —tampak dalam  Cerita Silat, Serat Babad—perilaku dan sepak terjang tokoh-tokoh sejarah, bukanlah peristiwa sejarah, melainkan peristiwa  hero yang dimassifikasi dan dimistifikasi (dilebih-lebihkan). Karenanya sama sekali jauh dari realitas empiris. Padahal peristiwa sejarah mustinya, renik, riil (empiris). Dengan mentalitas partisipasi mistik, sejarah merupakan (dianggap dan  selalu mengharap) campur tangan  grand design takdir. Akibatnya masyarakat, mudah  pasrah, nrimo ketentuan takdir. Dan mengharapkan hadirnya grand design—tampak pada gerakan mesianisme dan milenarisme, (gerakan Ratu Adil ) tanpa memiliki kegigihan dan etos kerja (keras), untuk memperbaiki diri, sejarah dan masa depan. Dari problem historisitas ini, bangsa ini tampak besar secara geografis. Tetapi belum (tidak pernah)  besar sikap, mental dan kedewasaan berfikirnya. Maka bangsa ini (mungkin) akan selalu berada dalam keremangan sejarah. Sejarah adalah peristiwa samar, tragik dan tak terelakkan , yang terus menjadi utopia, impian dan angan-angan sosial yang hilang; sebuah mentalitas canggung dan nrabas, manakala hendak menatap masa depan.
Sebagaimana, serat dan babad, yang ditulis ketika masyarakat (bangsa) sedang tidak memiliki tokoh (pahlawan) nyata. Tokoh yang memiliki dan membangun  nilai-nilai (sejarah) logis, renik dan empiris. Maka jika  hari ini kita  merayakan cerita silat, agaknya kita  sedang pula merayakan hadirnya tokoh-tokoh massif. Tokoh yang (hanya) dibesarkan  citra, yang dimasifikasi sedemikian rupa.
Sudah lama, bangsa ini, tidak lagi melahirkan tokoh sebesar Ratu Sima, Samarattungga, Rakai Kayuwangi, Airlangga, Gadjah Mada, hingga Soekarno-Hatta. Meski tidak harus ubahnya ratu adil, apalagi tokoh-tokoh sakti dunia persilatan seperti Mahesa Jenar, Agung Sedayu, Kebo Kanigoro, Panembahan Ismoyo. Sesungguhnya hari ini, bangsa ini, hanya membutuhkan hadirnya tokoh yang sanggup memberikan “kebanggaan” dan membangun “harapan” rakyat. Sebab masyarakat tanpa harapan dan kebanggaan, ujungnya hanya akan menjadi masyarakat chaos. Sehingga melihat gejala yang marak di permukaan – dus jika dikaitkan dengan mentalitas siklik faham Mataraman – kami memiliki prediksi, yang hampir menjadi keyakinan “bangsa ini (mungkin) tidak akan mampu merayakan ultahnya yang ke 100 (2045)”.

 
Comments

No comments yet.